Artificial Intelligence Compliance Ecosystem (AICEco) dalam konteks pertumbuhan ekonomi 8% melalui pemajakan underground economy


Jakarta – AICEco adalah kerangka kerja kepatuhan terintegrasi yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI), yang dikembangkan sebagai solusi revolusioner untuk meningkatkan tax ratio nasional dan memerangi penghindaran pajak yang canggih di Indonesia.

Peran AICEco dalam Pemajakan Underground Economy
AICEco, yang merupakan inovasi anak bangsa oleh Dr. Joko Ismuhadi, dirancang untuk menjadi “Mata Elang” AI yang mampu mengungkap potensi penerimaan pajak yang selama ini tersembunyi di underground economy (ekonomi bawah tanah), shadow economy, atau paralel economy.

Peran utamanya meliputi:
* Deteksi Anomali Tingkat Lanjut: Sistem ini menggunakan algoritma machine learning dan kerangka analitik seperti Ismuhadi Equation (IE), yang terdiri dari Tax Accounting Equation (TAE) dan Mathematical Accounting Equation (MAE). Fungsi ini memungkinkan AICEco menganalisis volume data transaksi yang sangat besar untuk mengidentifikasi pola-pola transaksi yang tidak wajar dan rekayasa keuangan secara real-time atau hampir realtime.
* Mengungkap Skema Canggih: AICEco terbukti mampu mendeteksi secara dini skema penghindaran pajak yang sangat canggih, seperti transaksi back-to-back loan scheme. Skema ini dirancang untuk mengubah pendapatan (objek pajak) menjadi utang (non-objek pajak) secara artifisial, sehingga menghilangkan status objek pajak pada penghasilan.
* Kepatuhan Proaktif dan Prediktif: Dengan memberikan skor risiko yang tinggi pada Wajib Pajak (WP) yang terindikasi melakukan manipulasi, AICEco memungkinkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk mengambil langkah proaktif dan prediktif. Ini berfokus pada pencegahan dan pembinaan melalui skema Cooperative Compliance, alih-alih hanya mengandalkan koreksi pasca-pelaporan atau audit tradisional.
* Menggali Potensi Penerimaan: Hasil uji coba AICEco telah menunjukkan potensi pajak yang signifikan. Sebagai contoh, dalam uji coba pada industri CPO di Sumatera Utara, AICEco menemukan potensi pemajakan senilai Rp20 triliun yang belum tergali karena adanya praktik offsetting utang-piutang antarperusahaan satu grup untuk menurunkan laba kena pajak secara artifisial.

Kaitannya dengan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
* Penerimaan Negara: Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% (seperti yang pernah dicanangkan oleh salah satu kandidat pemimpin) memerlukan dukungan penerimaan negara yang kuat. Selama ini, pertumbuhan ekonomi seringkali stagnan di level sekitar 5%.
* Memaksimalkan Potensi: Underground economy diyakini memiliki potensi yang sangat besar dan jika berhasil dipajaki, dapat mendongkrak tax ratio secara signifikan. Peningkatan tax ratio ini akan memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah untuk mendanai program-program strategis yang mendorong investasi, pembangunan infrastruktur, dan stimulus ekonomi, yang pada akhirnya dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi menuju target 8%.

Singkatnya, AICEco adalah alat AI yang bertugas mengidentifikasi dan memajaki celah penerimaan di underground economy, sehingga secara tidak langsung memperkuat fondasi fiskal yang dibutuhkan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ambisius.

Reporter: Marshanda Gita – Pertapsi Muda

Berita Terkait

Top