Karya Anak Bangsa: AICE Temuan Dr. Joko Ismuhadi Perkuat CRM DJP, Siap Kerek Tax Ratio
Jakarta, 8 November 2025 – Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kini memiliki amunisi baru berbasis teknologi mutakhir untuk mengoptimalkan pengawasan kepatuhan Wajib Pajak. Inovasi tersebut adalah AICE (Artificial Intelligence Compliance Engine), sebuah mesin kepatuhan berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang merupakan temuan dari Dr. Joko Ismuhadi, seorang ahli dan anak bangsa.
AICE dirancang khusus untuk memperkuat Compliance Risk Management (CRM) milik DJP, yang merupakan strategi kunci dalam memitigasi risiko ketidakpatuhan, sekaligus menjadi harapan besar untuk mengerek tax ratio Indonesia.
Revolusi Pengawasan dengan Kecerdasan Buatan
Selama ini, DJP menggunakan CRM untuk memetakan risiko Wajib Pajak (WP) agar pengawasan dapat dilakukan secara targeted dan efisien. Namun, ledakan volume data dan kompleksitas transaksi membutuhkan sistem yang lebih cerdas. Di sinilah AICE berperan.
“AICE bukan sekadar alat analisis biasa. Ini adalah mesin prediktif yang menggunakan algoritma canggih untuk memproses big data dari berbagai sumber, baik internal maupun eksternal DJP,” jelas Dr. Joko Ismuhadi. “AICE mampu mengidentifikasi pola anomali dan potensi tax gap dengan akurasi tinggi secara real-time.”
Integrasi AICE dalam sistem DJP memungkinkan pembuatan Peta Risiko Kepatuhan yang jauh lebih dinamis dan terperinci. Dengan begitu, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dapat menentukan prioritas tindakan pengawasan—mulai dari edukasi, imbauan, hingga pemeriksaan—tepat pada sasaran yang memiliki risiko ketidakpatuhan tertinggi.
Menutup Compliance Gap dan Mendongkrak Tax Ratio
Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan tax ratio yang stagnan. Upaya utama untuk mendongkrak rasio pajak adalah dengan secara efektif menutup compliance gap—selisih antara potensi pajak yang seharusnya terkumpul dengan realisasi penerimaan.
Menurut Dr. Joko, AICE adalah jawaban teknologi untuk masalah ini.
“Strategi AICE sangat sederhana: fokuskan sumber daya ke area yang paling berisiko. Dengan pengawasan yang sangat terarah ini, kebocoran penerimaan yang disebabkan oleh ketidakpatuhan dapat ditekan drastis. Ketika compliance gap menyempit, secara otomatis tax ratio akan terangkat ke level yang lebih ideal,” tegasnya.
Pemanfaatan inovasi dalam negeri seperti AICE juga menandai babak baru dalam modernisasi administrasi perpajakan. Diharapkan AICE segera diimplementasikan secara penuh untuk mendukung target penerimaan negara yang ambisius pada tahun-tahun mendatang.
Reporter: Marshanda Gita – Pertapsi Muda





