Integritas dan Keniscayaan Perubahan: Suara Eks Pegawai Pajak tentang Kebenaran dan Rezeki
Oleh: Amanda Valerina
JAKARTA – Setelah mengabdikan diri selama tiga dekade di lingkungan yang kompleks seperti Direktorat Jenderal Pajak (DJP), seorang mantan pegawai pajak yang memiliki jam terbang tinggi membagikan pandangannya yang tajam mengenai integritas, dinamika institusi, dan prinsip hidup yang ia pegang teguh. Pengalaman puluhan tahun yang ia jalani, menurutnya, telah menyimpan begitu banyak informasi, dinamika, dan fakta yang menyentuh berbagai lini dan melibatkan banyak pihak.
Kebenaran yang Luas dan Panjang
Dalam sebuah pernyataan yang mendalam, sumber ini mengakui kompleksitas dunia perpajakan yang ia geluti. “Selama 30 tahun bekerja, begitu banyak informasi, dinamika, dan pengalaman yang masuk ke kepala ini. Dunia yang saya jalani bukan dunia yang sederhana. Banyak hal yang saya lihat, saya dengar, dan saya ketahui,” ujarnya.
Menyikapi kemungkinan adanya panggilan dari pihak berwenang di masa depan, ia menegaskan komitmennya untuk berpegang pada kejujuran dan fakta. “Seandainya suatu hari saya diminta memberikan klarifikasi oleh pihak berwenang, saya tentu akan berbicara jujur sesuai fakta yang saya ketahui. Dan yang pasti, apa yang saya tahu tidak berhenti pada satu atau dua nama saja — karena pengalaman puluhan tahun itu menyentuh begitu banyak lini dan begitu banyak orang.”
Ia menekankan bahwa niatnya bukan untuk menjatuhkan siapa pun, melainkan demi menjunjung tinggi kebenaran. “Saya tidak pernah berniat menjatuhkan siapa pun. Tapi saya percaya bahwa kebenaran itu luas, panjang, dan kadang menyangkut lebih banyak pihak daripada yang terlihat. Integritas saya selama ini adalah menyimpan, menjaga, dan tetap tegak lurus pada merah putih.”
Rezeki Bukan dari Kantor, Tapi dari Tuhan
Lebih jauh, ia memberikan pesan inspiratif dan penenang bagi para pegawai yang mungkin merasa takut atau terintimidasi oleh isu integritas dan potensi kehilangan pekerjaan. Pesan ini relevan bagi semua profesional di sektor publik, terutama yang berada di institusi rawan gesekan seperti perpajakan.
“Jangan pernah takut kalau suatu hari harus keluar dari sebuah pekerjaan—termasuk dari kantor pajak. Rezeki itu tidak datang dari kantor, tidak datang dari jabatan, dan tidak datang dari manusia. Rezeki datang dari Tuhan,” tegasnya.
Menurutnya, kekhawatiran finansial tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengompromikan prinsip. “Di luar sana masih terbentang begitu banyak pintu, begitu banyak peluang, begitu banyak jalan hidup yang bisa dijemput. Jangan khawatir tentang makan, jangan takut keluarga melarat. Yang penting kita tetap bekerja jujur, tetap lurus, tetap menjaga nama baik.”
Ia menyimpulkan prinsip ini dengan keyakinan spiritual: “Selama tangan kita bersih dan hati kita ikhlas, pintu rezeki akan terbuka dari arah yang tidak pernah kita duga.”
Inspirasi Perubahan: Dari Change! Hingga Ketegasan Umar bin Khattab
Komitmen sumber ini terhadap perubahan dan integritas ternyata telah dimulai sejak lama, berakar dari dua sumber inspirasi yang kontras namun saling melengkapi.
“Sejak tahun 2005, tepat ketika anak kedua saya lahir—yang saya beri nama Karin setelah saya membaca buku Change! karya Prof. Rhenald Kasali dan biografi Umar bin Khattab—saya mulai menyuarakan perlunya perubahan di DJP,” kenangnya.
Buku Change!, katanya, membuka mata tentang pentingnya berani keluar dari zona nyaman, menghadapi resistensi, dan memahami bahwa perubahan adalah keniscayaan yang harus dipimpin. Sementara itu, perjalanan kepemimpinan Umar bin Khattab mengajarkan tentang ketegasan moral, keberanian mengambil sikap, dan integritas yang tidak boleh ditawar dalam setiap amanah publik.
Keyakinan ini semakin diperkuat setelah ia berdialog langsung dengan Prof. Rhenald Kasali. “Beliau menyampaikan pesan yang selalu saya pegang sampai hari ini: tetaplah konsisten menjaga integritas dan profesionalisme, apa pun atmosfer yang terjadi di DJP.”
Pesan Profesor Rhenald yang mengingatkan bahwa perubahan besar tidak terjadi seketika, melainkan datang perlahan seiring perkembangan zaman dan tuntutan publik terhadap transparansi, selaras dengan pelajaran dari Umar bin Khattab—bahwa pelayan publik harus berdiri tegak menjaga nilai, meski keadaan di sekitar tidak selalu mendukung.
“Sejak saat itu, saya percaya bahwa integritas tidak boleh bersifat musiman, dan profesionalisme tidak boleh bergantung pada situasi. Perubahan mungkin membutuhkan waktu, tetapi ia akan tiba, selama ada orang-orang yang tetap menjaganya dari dalam,” tutupnya, memberikan catatan optimisme bagi masa depan institusi perpajakan Indonesia.
Taxjusticenews.com





